Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat banyak pekerjaan selesai lebih cepat. Menyusun laporan, merangkum rapat, mencari informasi dalam ribuan dokumen, hingga membuat presentasi kini dapat dilakukan dalam hitungan menit.
Namun di tengah euforia tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah AI suatu hari nanti akan menggantikan manusia di tempat kerja?
Dalam acara AI Doppelganger yang diselenggarakan Cherrytree bersama Google Cloud, Ingram Micro, dan Rimba House di kantor Google Jakarta pada 17 Juni 2026, topik ini sempat menjadi salah satu pembahasan menarik.
Dari situ kita bisa ambil kesimpulan bahwa kecerdasan buatan mampu membantu pekerjaan manusia, tetapi tidak dapat menggantikan perasaan manusia.
Ketika AI Menjawab, Manusia Tetap Harus Memahami Perasaan

Dalam sesi diskusi, entrepreneur dan CEO Buzzle, Yasa Singgih, menceritakan pengalamannya menggunakan AI untuk menganalisis percakapan dan memahami sudut pandang orang lain.
Menurutnya, AI dapat memberikan saran yang logis berdasarkan data yang tersedia. Namun hasil tersebut tidak bisa langsung digunakan begitu saja dalam interaksi manusia.
“AI kasih jawabannya, tapi nggak mungkin bisa gue copy paste ke istri gue. Aku harus ngolah itu dengan bahasa aku sendiri,” ujar Yasa dalam sesi panel diskusi.
Pernyataan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun di dunia kerja, situasinya sangat relevan.
Seorang manajer dapat menggunakan AI untuk menganalisis performa tim, membaca hasil survei karyawan, atau mengidentifikasi masalah yang sedang terjadi. Tetapi ketika harus memberikan umpan balik kepada anggota tim, membangun kepercayaan, atau menyelesaikan konflik, pendekatannya tetap membutuhkan sentuhan manusia.
AI dapat menunjukkan masalah. Manusia yang menentukan cara menyampaikannya.
Empati Menjadi Keterampilan yang Semakin Berharga
Yasa juga mengutip laporan World Economic Forum mengenai keterampilan yang diperkirakan tetap relevan hingga tahun 2030.
Salah satu yang menempati posisi teratas adalah empathy dan active listening.
Temuan ini menarik karena banyak orang justru menganggap kemampuan teknis sebagai faktor utama untuk bertahan di era AI. Padahal ketika berbagai tugas administratif mulai diotomatisasi, kemampuan memahami orang lain justru menjadi semakin penting.
Empati membantu pemimpin memahami kondisi timnya.
Empati membantu tenaga penjualan memahami kebutuhan pelanggan.
Empati membantu divisi layanan pelanggan menghadapi komplain dengan cara yang tepat.
Semua itu melibatkan konteks emosional yang sulit diterjemahkan menjadi sekumpulan data.
AI Bisa Membaca Data, Tetapi Tidak Mengalami Perasaan
Model kecerdasan buatan modern mampu menganalisis jutaan kata dalam waktu singkat. Teknologi seperti Gemini bahkan dapat membaca dokumen, spreadsheet, email, hingga data dari berbagai sistem perusahaan.
Kemampuan tersebut membuat AI sangat efektif dalam menemukan pola.
Masalahnya, hubungan antar manusia tidak selalu mengikuti pola.
Seorang karyawan yang terlambat mengumpulkan pekerjaan mungkin terlihat tidak produktif dari sisi data. Namun seorang pemimpin yang memiliki kedekatan dengan timnya bisa mengetahui bahwa orang tersebut sedang menghadapi masalah keluarga atau kesehatan.
Konteks seperti ini sering kali tidak muncul dalam dashboard atau laporan.
Mereka dapat memberikan rekomendasi berdasarkan informasi yang tersedia. Sementara empati membantu manusia memahami informasi yang tidak tertulis.
Perusahaan Tetap Membutuhkan Human Connection
Dalam diskusi yang sama, Yasa menjelaskan bahwa hubungan dengan pelanggan juga masih membutuhkan interaksi langsung.
Ia mencontohkan bagaimana timnya melakukan observasi lapangan untuk memahami perilaku konsumen sebuah merek makanan dan minuman. Data tersebut kemudian digunakan sebagai bahan untuk berdiskusi dengan AI.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kualitas output AI sangat bergantung pada kualitas input yang diberikan manusia.
AI tidak melakukan wawancara dengan pelanggan.
AI tidak mengamati ekspresi wajah saat seseorang berbicara.
AI tidak merasakan frustrasi, antusiasme, atau keraguan yang muncul dalam percakapan.
Data-data tersebut tetap harus dikumpulkan oleh manusia.
Masa Depan Tempat Kerja Bukan Manusia Melawan AI
Perdebatan mengenai manusia versus AI sering kali menyesatkan.
Dalam praktiknya, perusahaan tidak sedang memilih salah satu. Yang terjadi justru kolaborasi antara keduanya.
AI mengerjakan pekerjaan yang bersifat repetitif, administratif, dan analitis.
Manusia fokus pada hal-hal yang membutuhkan penilaian, kreativitas, komunikasi, dan empati.
Leonard, salah satu pembicara dalam acara tersebut, mengingatkan bahwa AI seharusnya digunakan untuk membantu pengambilan keputusan, bukan mengambil keputusan itu sendiri.
Pandangan ini semakin relevan ketika perusahaan mulai mengadopsi AI dalam berbagai proses bisnis. Semakin canggih teknologinya, semakin penting pula kemampuan manusia untuk memahami manusia lainnya.
AI akan terus berkembang. Kemampuannya dalam membaca data, menghasilkan konten, dan membantu pengambilan keputusan kemungkinan akan semakin baik dalam beberapa tahun ke depan.
Namun ada satu hal yang hingga kini belum berubah: manusia tetap ingin dipahami oleh manusia lain.
Karena itu, keterampilan seperti empati, mendengarkan secara aktif, membangun kepercayaan, dan menjaga hubungan tetap menjadi aset penting di tempat kerja.
AI mungkin dapat membantu seorang pemimpin bekerja lebih cepat. Tetapi untuk membuat tim merasa dihargai, didengarkan, dan dipercaya, peran manusia masih belum tergantikan.








